Menjaga Hati Menundukkan Pandangan

menundukkan pandangn

Pertanyaan:
Assalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh.
Usatadz mohon penjelasan:
1.    Bagaimana hukum menggabungkan penyembelihan qurban dan aqiqah bagi anak yang baru lahir?
2.    Bagaimana kiat kita agar bisa menundukkan pandangan dari yang diharamkan Allah?
Abdurrahman di S

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
Bismillah. Alhamdulillah washshalatu wassalam ‘ala Rasulillah.
Allahu a’lam. Pada asalnya ibadah qurban atau udhhiyah berbeda dengan ibadah ‘aqiqah.  Keduanya memiliki beberapa perbedaan yang sangat jelas, di antaranya:

  1. Qurban kaitannya adalah dengan hari raya ‘Idul-Adha dan hari-hari Tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah) sedangkan ‘aqiqah kaitannya adalah dengan kelahiran bayi.
  2. Qurban tidak sah kecuali di waktu-waktu di atas, sedangkan ‘aqiqah tidak terikat dengan hari-hari tersebut.
  3. Qurban diniatkan untuk orang yang ber-qurban dan bisa mengikutkan keluarganya dalam pahala, sedangkan ‘aqiqah adalah untuk anaknya sebagai rasa syukur kepada Allah dan tidak bisa mengikutkan siapa pun.

Dari perbedaan-perbedaan di atas kita ketahui bahwa qurban dan ‘aqiqah adalah dua ibadah yang berbeda sehingga tidak bisa digabungkan pelaksanaan keduanya hanya dengan menyembelih satu hewan. Inilah yang menjadi pegangan di dalam madzhab Malikiyah dan Syafi’iyah.

Berkaitan dengan pertanyaan kedua, Rasulullah #n menyebutkan bahwa sepeninggal beliau kaum Adam akan banyak terfitnah oleh wanita. Beliau #n bersabda,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Tidaklah saya tinggalkan fitnah -sepeninggalku- yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada para wanita.”

Terlebih lagi di zaman sekarang ini, banyak sekali media yang bisa digunakan untuk melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah #l.

Allah #l menyuruh kita untuk menundukkan pandangan, baik laki-laki maupun perempuan. Allah #l berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ  وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“(30) Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Haruslah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ (31) Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan dan kemaluan mereka…’.” (An-Nur: 30-31)

Ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan agar bisa istiqamah menundukkan pandangan dari yang diharamkan oleh Allah #l, di antaranya:

  1. Yakinlah bahwa Allah #l Maha Melihat dan Maha Mengetahui seluruh yang kita kerjakan dan seluruh maksiat yang kita lakukan
    Allah #l berfirman,
    فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
    “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersamamu dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Hud: 112)
  2. Renungkanlah bahwa seluruh yang kita lakukan akan dicatat di buku-buku catatan amalan kita dan ada malaikat yang selalu mengawasi kita
    Allah #l berfirman,
    وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ  كِرَامًا كَاتِبِينَ  يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُون
    “(10) Padahal sesungguhnya bagi kalian ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (perbuatan kalian), (11) yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (perbuatan-perbuatan kalian itu), (12) mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Infithar: 10-12)
  3. Ingatlah bahwa anggota-anggota tubuh kita akan bersaksi di hari kiamat, termasuk kedua mata yang kita gunakan untuk melihat.
    Allah #l berfirman, yang artinya,“Dan mereka berkata kepada kulit mereka: ‘Mengapa kalian menjadi saksi terhadap kami?’ Kulit mereka menjawab: ‘Allah-lah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kalian pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kalian dikembalikan.” Kalian sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulit kalian kepada kalian bahkan kalian mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian kerjakan.” ( Fushshilat: 21-22)
  4. Bayangkanlah beratnya siksaan Allah kepada orang-orang yang melakukan perbuatan maksiat dan bayangkan pula panasnya neraka untuk orang-orang yang masuk ke dalamnya
  5. Bersyukurlah atas nikmat yang Allah berikan dan cara bersyukur dari kepada Allah adalah dengan menggunakannya pada hal-hal yang diridai dan diperbolehkan oleh Allah. Sesungguhnya kita tidak akan bisa bermaksiat kepada Allah kecuali dengan menggunakan kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita, contohnya adalah mata, mata adalah kenikmatan dan menggunakan kedua mata untuk bermaksiat adalah bentuk kufur atas kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada kita.
  6. Jauhilah sebab dan tempat yang bisa mengantarkan ke perbuatan maksiat tersebut. Dengan meninggalkan sebab, tempat dan sarana yang bisa mengantarkan kita kepada perbuatan maksiat, insyaallah kita akan terjauhkan dari perbuatan maksiat tersebut.
  7. Sibukkanlah diri dengan hal yang bermanfaat dan amalan-amalan sunnah.
    Jika seseorang sudah disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat dan amalan-amalan sunnah sepanjang waktu, maka insyaallah dia tidak akan memiliki waktu untuk melakukan perbuatan maksiat.
  8. Bertemanlah dengan orang-orang shalih yang banyak memiliki kegiatan bermanfaat
    Jika kita berteman dengan orang-orang yang shalih insyaallah mereka akan bisa memberikan pengaruh positif pada diri kita, sehingga kita akan disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat.
  9. Menikahlah dan jika tidak mampu maka perbanyaklah puasa sunnah
    Rasulullah #n bersabda,
    يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاء.
    “Wahai para pemuda! Barang siapa yang memiliki kemampuan, maka menikahlah, sesungguhnya itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih bisa menjaga pandangan. Barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, sesungguhnya puasa itu adalah penghalang untuknya (dari syahwatnya).”
  10. Ingatlah bidadari-bidadari surga yang disediakan untuk para penghuninya dan perbedaan yang sangat jauh bila dibanding dengan wanita dunia
    Rasulullah #n bersabda,
    وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى الأَرْضِ لأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلأَتْ مَا بَيْنَهُمَا رِيحًا وَلَنَصِيفُهَا ، يَعْنِي الْخِمَارَ – خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
    “…Dan kalau seandainya seorang wanita dari kalangan wanita ahli surga melihat ke bumi, maka dia akan menerangi antara keduanya (dengan cahaya) dan dia memenuhi antara keduanya dengan bau (wangi). Dan kerudungnya lebih baik daripada dunia dan apa yang di dalamnya.”
    Dengan membaca satu hadits di atas saja, kita bisa memahami bahwa wanita dunia tidak sebanding dengan wanita di surga. Apalagi jika disebutkan berbagai macam keutamaan dan ciri-ciri bidadari surga di dalam hadits-hadits yang banyak jumlahnya, insyaallah ini akan membangkitkan semangat kita untuk melakukan hal-hal yang halal dan boleh kita lakukan dan meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah.
  11. Waspadalah terhadap kematian dan dia pasti akan datang, sedangkan kita tidak mengetahui kapan dia datang.
    Allah #l berfirman, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Al-Jumu’ah: 8)
  12. Takutlah jika diwafatkan oleh Allah dalam keadaan suu-ul-khatimah (akhir kehidupan yang buruk)
    Rasulullah #n bersabda, “Sesunguhnya seorang hamba ada yang beramal dengan amalan ahli neraka, tetapi dia adalah ahli surga. Dan ada yang yang beramal dengan amalan ahli surga, tetapi dia adalah ahli neraka. Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung bagaimana akhirnya.”  
    Oleh karena itu, sudah siapkah kita jika Allah #l mencabut nyawa kita dalam keadaan kita sedang melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah?

Allahu a’lam bishshawab. Ini adalah beberapa kiat yang mungkin bisa kita praktikkan agar kita bisa selalu menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah #l.

Dijawab Oleh: Ust. Said Yai Ardiansyah, Lc. MA

Related posts

Leave a Comment