|
Puasa Bentuk Perilaku Sosial |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 21 July 2010 |
|
|
|
Last Updated ( Monday, 26 July 2010 )
|
| Views |
403  |
|
Setiap ibadah dalam Islam memiliki nilai-nilai implementasi akhlak. Kita tahu betul, betapa shalat, zakat dan haji, tidak semata-mata ibadah ritual yang memang disyariatkan khusus dalam Islam. Para ulama seringkali menjelaskan hikmah-hikmah di balik setiap ibadah tersebut, juga nilai pelajaran moral serta akhlak di dalamnya. Ini termasuk juga masalah puasa.
Setiap ibadah dan kebajikan dalam puasa, terutama di bulan Ramadhan, semakin meningkat pahala dalam melaksanakannnya, semakin bagus bobotnya. Sebab, –di antaranya—puasa juga memberikan suntikan nilai ke dalam ibadah-ibadah tersebut.
Terbinanya iman dan akhlak orang yang berpuasa, membuatnya lebih mampu melaksanakan ibadah dan kebajikan apa pun secara lebih tulus, lebih berkwalitas.
Sedekah, dzikir, membaca Al-Quran, dan berbagai kebajikan lain, terasa lebih bernilai dan lebih khusyu, bila dilakukan saat sedang berpuasa. Maka, dengan melaksanan puasa –bila itu dilakukan dengan ikhlas, pasti akan muncul motivasi untuk melakukan hal-hal yang penuh keutamaan. Terutama banget yang memiliki nilai 'sentuh' yang lebih akrab dengan puasa itu sendiri, yaitu kecenderungan hati untuk berbuat baik terhadap sesama.
Banyak dalil yang memuliakan sikap penderma dan menolong orang yang membutuhkan. Terutama sekali orang-orang yang dekat di sekitar kita. Sabda Nabi n, لَا وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ لَا وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ لَا وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قَالُوا وَمَنْ ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ جَارٌ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ "Tidak, demi Allah tidak beriman. Tidak, demi Allah tidak beriman. Tidak, demi Allah tidak beriman." Mereka bertanya, “Siapakah orang itu wahai Rasululloh?" Beliau menjawa. "Orang yang tidak bisa membuat tetangganya merasa aman.” Dalam riwayat lain: لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ "Orang yang tidak bisa membuat tetangganya merasa aman dari kejahatannya, tidak dikatakan beriman." عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ إِنَّ خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَانِي إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوفٍ Dari Abu Dzarr diriwayatkan, bahwa Rasulullah n pernah berpesan kepadanya, “Kalau engkau memasak gulai, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihat para tetanggamu, dan berikan mereka gulai tersebut secara wajar.” Itulah beberapa nash yang memberikan anjuran agar kita berbuat baik kepada tetangga, senantiasa memperhatikan kondisi mereka, dan sesering mungkin memberikan hadiah, bisa berupa makanan ala kadarnya, dan sejenisnya. Seorang muslim yang secara ikhlas menjalankan puasa sebulan penuh, pasti akan semakin tumbuh kesadaran sosialnya. Ia akan lebih peduli terhadap kondisi saudara-saudaranya seiman, termasuk yang terpenting adalah ibu, bapak, saudara, dan tidak lupa, tetangganya.
Users' Comments (0)
|
|
|