|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 13 July 2010 |
|
|
|
Last Updated ( Wednesday, 14 July 2010 )
|
| Views |
332  |
|
Yang dimaksud dengan dzikir bukanlah klaim kosong yang dilakukan kaum sufi ekstrim berupa siulan, tepuk tangan dan tarian yang dianggap dzikir. Dzikir bukan sekadar kalimat ringan di lisan yang tak memiliki pengaruh sama sekali di hati dan perilaku pelantunnya. Allah berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran: 190-191) Dzikir semestinya dilakukan oleh hati terlebih dahulu sebelum ucapan dengan lisan. Dzikir kalbu ini adalah pembicaraan di dalam hati, jiwa, dan akal yang merupakan ubudiyah tersembunyi. Kondisi demikian bisa menjadikan hati dekat pada Allah dan berlama-lama dalam mengingatNya. Inilah peringkat ubudiyah yang tertinggi, karena ia adalah peringkat al ihsan. Yaitu Anda beribadah kepada Allah seolah melihatNya. Seorang yang muhsin (berbuat ihsan) dialah orang yang selalu dekat pada Allah di setiap waktu dan kesempatan. Dalam setiap lintasan pikiran mencari keridhaan Allah baik dalam perbuatan maupun perkataannya. Bahkan dalam setiap kehendak atau keinginannya selalu dibicarakan dalam hatinya. Hakikat ibadah yang kita diperintahkan adalah kesesuaian antara ibadah hati dengan ibadah anggota badan. Realisasikan ibadah hati dan ibadah lahiriah. Dan kita mesti memperbaiki ibadah hati kita sebagaimana memperbaiki ibadah lahiriah kita.
Diantara sarana-sarana penting yang mengantarkan pada bagusnya ibadah batin dan ruh kita adalah: 1. Menghadirkan hati sebelum atau ketika memulai ibadah. Para fuqoha (ahli fikih) membahas tentang masalah niat sebelum masuk ke dalam amalan. Yang mereka maksudkan dengannya adalah niat yang membedakan antara amal itu sendiri. Seperti misalnya membedakan antara shalat dhuhur dengan shalat ashar, puasa sunah dengan puasa wajib dan lain sebagainya. Sedangkan para pakar tauhid memperbincangkan niat dalam hal membedakan tujuan sebuah ibadah, apakah untuk Allah saja atau untuk yang lain. 2. Berdialog pada hati dan mengingatkannya untuk beribadah pada Allah Azza wa jalla baik di luar ibadah maupun di tengah-tengah menjalankan ibadah itu sendiri jika memungkinkan. Dialog pada hati ini bak sungai yang membuat hati menjadi lunak, lembut dan khusyu. Namun bila air sungainya kering maka hati akan menjadi kering lalu mengeras, naudzubillah min dzalik. 3. Bersegera dan bersiap-siap untuk menjalankan ibadah. Contohnya adalah bersegera pergi ke masjid untuk menjalankan shalat. Persiapan secara fisik ini akan mendampingi jiwa, ruh dan hati untuk bersegera menuju masjid. Dari sini Anda bisa memahami banyaknya kisah para salafus salih tentang masalah bergegas ke masjid. Ibrahim bin Yazid, seorang yang fakih dan ahli ibadah di kota kuffah pernah mengatakan “Jika Anda melihat seorang yang malas-malasan untuk datang ke masjid di awal waktu, maka berlepas dirilah darinya.” Bersegera di sini tentu disesuaikan dengan jenis ibadah yang disyariatkan. Siapa pun yang memperhatikan masalah ini akan mendapatkan perbedaan tajam antara orang yang bersiap untuk ibadah dengan orang yang menunaikan ibadah tanpa persiapan fisik yang mengiringi hati, orang yang mendatangi shalat dengan terburu-buru supaya mendapatkan rukuk, yang masuk ke dalam shalat sementara jasadnya tidak tenang karena terburu. Oleh karenanya Rasulullah melarang dari terburu-buru mendatangi shalat walau iqamah sudah ditegakkan, “Jika kalian mendatangi shalat maka jangan mendatangi dalam kondisi terburu (berlari), dan datangilah dalam kondisi tenang.” 4. Menjauhkan diri dari hal yang mengganggu hati ketika beribadah. Terkait dengan shalat misalnya, Rasulullah melarang shalat menghadap sesuatu yang mengganggunya ketika sedang shalat, “Tidak selayaknya di dalam rumah ada sesuatu yang mengganggu orang yang shalat.” (Shahihul Jami’ 2500). Oleh karenanya ada larangan untuk mengerjakan shalat ketika makanan telah dihidangkan atau ketika menahan buang air. Ini semua agar hati kita terlepas dari kait-kait dunia dan bisa meraih hakikat ibadah. Agar antara hati, pikiran dan tubuh bersama-sama mengarah kepada Allah. Contoh ini berlaku dan mungkin dilakukan dalam ibadah-ibadah yang lain. Supaya kesibukan dan konsentrasinya hanya untuk ibadah sehingga menyebabkan hati seorang manusia benar-benar mengarah pada ibadah. 5. Banyak orang yang mengerjakan ibadah sekadar bergerak begitu saja seolah gerakan mesin. Misalnya ketika shalat, Anda bisa menyaksikan banyak orang yang menjalankan shalat nafilah membaca doa iftitah di lisan lalu membaca alfatihah dan surat pendek yang dihafalnya. Mungkin saat Anda tanya selepas shalat apa yang dibacanya tadi, dia tidak bisa mengingatnya. Kita mesti berusaha meraih hakikat ibadah, inti dan tujuannya. Serta menghadirkan hati dikala melaksanakannya, ikhlas di dalamnya hingga kita akan meraih buah ibadah berupa kedamaian, ketenangan, kebahagiaan dunia, keamanan, kejayaan dengan masuk ke dalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi di akhirat nanti. Wallahu a’lam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.. Diadaptasikan dari makalah “Haqiqatul Ibadah” karya Syaikh Sa’ad bin Abdullah Al Buraik dalam situs Islamselect.com
Users' Comments (0)
|
|
|