Home arrow Dunia Muda arrow Beginner's Guide: Bikin Masel dari Nol

Newsflash

Iklan Tengah Atas
Beginner's Guide: Bikin Masel dari Nol PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 27 June 2008
 
Views 1931    

ImageSetelah baca Elfata edisi lalu, kamu insya Allah sudah mantap hati untuk bikin bulletin sekolah. Menurutmu, majalah dinding sudah enggak cukup lagi buat pembelajaran jurnalistik. Harus ada media cetak berkala sekolah yang akan memungkinkan kamu-kamu belajar lebih banyak tentang jurnalistik dan hal-hal lainnya. Harus ada majalah sekolah alias masel!
Lalu, gimana langkah selanjutnya?

Susun Pasukan
Kalo dah kepikir pengin punya majalah sekolah, cari teman-teman yang punya ide seperti itu juga. Nggak ngebayangin kan bikin majalah sekolah seorang diri? Bisa nggak naik kelas kamu nanti.
Kalo di sekolahmu sudah ada tim madding –apalagi kalo kamu termasuk salah satu anggota tim itu- mudah untuk mencari teman-teman yang mau merintis majalah sekolah ini. Diskusikan saja sama (anggota) tim madding sekolahmu. Insya Allah mereka yang sudah seneng sama dunia permadingan akan seneng juga sama ide bikin majalah sekolah.

Banyak banget yang bisa kamu bicarakan tentang rencana majalah sekolah ini. Kamu bisa diskusikan bentuknya mo seperti majalah atau seperti koran/tabloid aja. Elfata edisi lalu (edisi 06 Volume 08) sudah ngebahas tentang ini. Silakan merujuk.

Nah, bagusnya, setelah diskusi tersebut, satu tim itu sudah pada sepakat mo gimana majalah sekolahnya nanti. Kamu-kamu yang mo terlibat masel sebaiknya sudah punya gambaran bagaimana majalah sekolahmu itu nanti.

Sembari rembug-rembug sama teman-teman yang seide, cobalah juga untuk mendekati guru Pembina majalah dinding (kalo sudah ada majalah dinding, lho!), atau guru Pembina OSIS, atau guru Bahasa Indonesia.

Komunikasikan kepada beliau tentang keinginan kamu-kamu untuk bikin majalah sekolah ini. Insya Allah beliau akan menanggapi dengan baik. Kegiatan seperti ini kan juga untuk kebaikan sekolahmu sendiri?

Dana: Penting Banget!
Jangan lupa juga untuk menanyakan masalah pendanaan majalah sekolah tersebut jika udah berjalan. Dana? Iya! Dana pegang peranan penting untuk biaya produksi majalah sekolah ini.
Kalo untuk majalah dinding biaya produksi 100 ribu rupiah sampai 200 ribu rupiah cukup. Tidak demikian halnya pada majalah sekolah. Katakanlah kamu mau bikin majalah sekolah dengan ukuran setengah halaman A4 atau setengah halaman F4, kira-kira 21, 5 cm x 15 cm. Trus isinya kertas HVS, tanpa warna, Cuma hitam putih, tebal 48 halaman. Trus kovernya pake kertas yang lebih tebel, ivory misalnya. Dengan tinta warna. Kemudian majalah sekolah itu dicetak dengan pelat kertas.

Intermezzo: untuk mencetak, ada beberapa teknologi yang digunakan. Pertama, yang digunakan adalah pelat kertas. Ini adalah yang paling murah, tapi kekurangannya adalah gambar yang dihasilkan kurang detil, hasil cetakannya bisa tidak presisi, apalagi kalo ada warna-warna grayscale. Kedua, pakai pelat seng, hasil cetakannya lebih bagus, lebih detil, lebih presisi, tapi tentu biayanya lebih mahal dairpada yang pake pelat kertas. Ketiga, dengan separasi film. Ini adalah standar cetakan untuk penerbitan komersial.

Elfata memakai yang terakhir ini. Tentu biayanya lebih tinggi dari dua yang sebelumnya.
Oke, untuk contoh kasus di atas, biaya produksi yang diperlukan untuk setiap eksemplar majalah sekolah adalah Rp 3.800,00. Oh, iya, angka yang tertera di sini jangan dijadikan acuan ya, tiap daerah bisa berbeda-beda. Angka di sini sekedar untuk memberi contoh gambaran dana yang diperlukan.

Trus, misalnya saja, untuk seluruh sekolah; siswa dan guru, majalahmu perlu dicetak sebanyak 500 eksemplar, berarti kamu butuh biaya produksi sebesar Rp 1,9 juta. Nah, banyak kan?
Penting bagi kamu untuk tahu bagaimana pendanaan majalah sekolah ini. Pendanaan bisa mempengaruhi banget mo kayak apa nantinya majalah kamu itu. Misalnya begini, ternyata sekolahmu Cuma sedia dana satu juta rupiah. Berarti untuk contoh kasus di atas, kamu kekurangan sekitar 900 ribu kan?

Mungkinkah bagi kamu untuk mencari dana buat menutup kekurangan biaya cetak segitu? Jika tidak mungkin, berarti yang kudu diubah adalah majalahmu itu sendiri. Kurangi halamannya. Atau kovernya tidak perlu berwarna. Atau isinya difotokopi saja. Atau bentuknya bukan majalah, tapi koran saja.
Jika kamu mungkin untuk mencari kekurangan biaya cetak tersebut, bagaimanakah kamu mencarinya? Majalahmu dijual ke siswa, eh, maksudnya siswa dipungut bayaran lagi. Ataukah minta dana kepada ortu wali murid yang kaya? Ataukah kamu mencari pengiklan di majalah sekolahmu?

Eh, itu baru biaya cetaknya lho! Kan untuk operasional juga ada biaya lain-lain? Misalnya saja untuk mewawancara tokoh anu kamu kan harus transportasi ke mana gitu. Untuk cari bahan penulisan, kamu perlu nyambung ke internet –kecuali sekolahmu sudah ada internet gratis. Biar majalahmu bagus kamu juga harus ambil gambar dengan kamera. Apakah ada dana untuk menanggung biaya operasional kayak gini?

Kamu sebaiknya udah dapat bocoran berapa sebenarnya dana yang tersedia buat kegiatan bikin majalah sekolah ini. Trus, juga kudu jelas, dana itu buat jangka waktu berapa lama? Satu tahun? Satu kali penerbitan? Sekali lagi, kudu sudah jelas ada dana atau tidak buat kegiatan bikin majalah sekolah ini sebelum melangkah ke langkah selanjutnya.

Jadilah Pemburu Sendiri
Setelah masalah dana jelas, sebaiknya kamu segera cari-cari percetakan. Tanyakan kepada mereka, dengan dana produksi segitu – yaitu setelah dana dari sekolah dikurangi and dipotong bea operasional dan lain-lain- majalah sekolah yang mo dibikin bisa jadi kayak apa. Omongkan pula bahwa dana produksi segitu itu buat cetak sekian eksemplar.

Usahakan untuk mencari percetakan sendiri. Emang ada sih orang yang menawarkan diri untuk menghubungkan dengan percetakan. Tapi, tentu saja orang tersebut akan mengambil keuntungan untuk dirinya. Dengan demikian biaya produksinya akan naik.

Usahakan juga untuk menata letak dan mendesain majalah sekolahmu sendiri. Ada percetakan yang menawarkan layanan paket majalah sekolah mulai dari desain dan tata letak sampai tercetak. Kamu tinggal mengkomunikasikan mo seberapa tebalnya, mau apa saja rubriknya, kemudian tinggal setor naskah dan foto. Beres. Tapi, untuk model paketan seperti ini, biasanya sudah ditambah dengan ongkos desain dan tata letak sebesar rata-rata 500 ribu rupiah. Dengan demikian, tentu saja biaya produksinya akan naik, ditambah ongkos desain tata letak itu.

Ngapain kok ‘harus’ susah-susah cari percetakan sendiri, desain tata letak sendiri, kalo bisa dilimpahkan ke orang lain? Karena, yang pake ‘sendiri-sendiri’ itulah sebenarnya inti pembelajaran dari bikin majalah sekolah.

Waktu cari percetakan, kamu akan belajar berkomunikasi dengan orang lain, mengkomunikasikan idemu ke orang lain yang lebih kompeten. Trus, kamu juga belajar membandingkan banyak hal dengan banyak variable kelebihan dan kekurangan. Trus juga, kamu belajar mengambil keputusan.

Waktu mendesain dan menata letak, kamu belajar tentang komposisi, keseimbangan, tipografi, keterbacaan, de el el. Selain itu, kamu juga belajar menggunakan perangkat lunak desain di computer.
Wah, banyak yang bisa kamu pelajari saat bikin majalah sekolah ini. Nggak Cuma belajar nulis atau belajar mewawancarai orang lain!
Dari perburuan percetakan ini, kamu insya Allah sudah bisa tahu, dengan dana segitu, majalah sekolahmu sudah bisa jadi kayak apa.

Langkah selanjutnya adalah membuat proposal penerbitan majalah sekolahmu itu. Proposal tersebut diajukan ke pihak sekolah. Walaupun Pembina mungkin enggak mewajibkan adanya proposal tersebut, seharusnya proposal itu tetep kamu buat. Proposal tersebut bisa kamu gunakan sebagai acuan sementara akan rencanamu. Selain itu, adanya proposal menunjukkan bahwa kamu emang serius untuk bikin majalah sekolah. Jadi, pihak sekolah juga akan mudah mengucurkan dananya.

Nasib Mading
Oh iya, bagaimana dengan madding? Kalo udah serius ngegarap masel gimana madingnya?
Sebaiknya madding tetap jalan terus. Masel tidak mungkin kamu buat sebulan sekali. Paling cepet ya seperti mading, tiga bulan sekali. Untuk mengisi kekosongan masel tersebut, madding perlu dibuat. Jadi ada dua penerbitan berkala di sekolah: majalah sekolah cetak dan majalah dinding.
Bagaimana manajemennya? Apa enggak repot? Jawabannya bisa kamu temukan di beberapa edisi ke depan. Untuk edisi ke depan, kita akan membahas tentang bagaimana membuat proposal penerbitan majalah sekolah dan penyusunan kru-nya lebih dulu.
Selamat bersemangat!
(irvansyaiban.wordpress.com)


Kutip  Favorit  Print  Kirim ke Temen

Users' Comments (3) RSS feed comment
Posted by eni widya, on 07-07-2008 11:27, , Guest
1. majalah sekolah
bagus banget. sayang sekali, aku lagi butuh banget buat proposal penerbitan majalah dan pembentukan redakturnya. bisa ga aku dikirimin artikel berikutnya? thanks

Admin: tunggu elfata edisi bulan berikutnya...
 

Posted by hauzaan, on 23-07-2008 21:22, , Registered
2. jaga keistiqomahan masel ... ???
assalamualaikum ...  
 
klo buat sich emang mudah, kayaknya ya ??? 
tp gimana caranya supaya mading kita bisa istiqomah ?? 
jazakalloh 
 
-fahmy di surabaya- 
wassalamualaikum
 

Posted by apri, on 26-01-2010 09:28, , Guest
3. proposal
kalo mw bikin mading perlu bkan proposal ga c? klo iy, isinya ap aj? 
ada contohnya ga? 
 
Ini mading untuk dimana ya? :upset
 

Add your comment



mXcomment 1.0.8 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >
Iklan Tengah Atas
RocketTheme Joomla Templates