admin : Wa'alaikumsalam, ayo siapa yang mau bantu? mungkin bisa beri informasi letak kajiannya...
yusuf99 : saya pengen ngaji salaf nih. tapi gak tau apa di daerah saya ada guru salaf apa enggak. ada yang bisa bantu carikan guru salaf gak? domisili saya di Malang selatan. jazakumullah...
yusuf99 : assalamu'alaikum..
vikiangga : Jazaakallah khoir,, atas ijinnya,,,
abu nafisah : assalamu'alaikum.LOWONGAN KERJA BUAT ANTUM YANG ADA DI JABODETABEK. LIHAT: «link»
admin : vikiangga,silahkan kalo mau copas tapi cantumkan sumbernya ya...
admin : Iya,semoga Fata bisa selalu eksis dan menjadi salah satu media dakwah dinegeri ini ya aldoe.sadan
admin : Semoga Ramadhan ini menjadi titik balik dari kita untuk menjadi lebih baik ya rudyekopras
”Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan perhiasan untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang baik ” (Al A’raf: 26) Kata demi kata aku pahami dari sepenggal artikel di majalah usang milik temanku. Majalah itu aku temukan di kamarnya pada tumpukan buku-buku saat kami sedang shalat asar. Setelah selesai mengerjakan tugas sekolah, kami pun berbincang-bincang tentang masa depan. Aku tidak ikut andil dalam pembicaraan itu. Karena kedua mata ku masih tertuju pada kumpulan huruf-huruf bertinta hitam pekat di majalah itu. “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka.” (An Nuur: 31) Aku membalik lembaran majalah itu dan ku temukan kata-kata di atas. Terasa sembilu menusuk hati ku. Hingga membuat jantung ini berdegup kencang. Tubuh ini bergetar hebat. Kewajibab berjilbab. Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di telinga ku. Seolah-olah ada seseorang yang tak henti-hentinya membisikkannya di sepanjang hari-hari ku. Akhirnya aku memutuskan untuk membicarakan hal tersebut dengan teman-temanku. Sempurna. Seperti yang aku harapkan, ternyata tanggapan mereka luar biasa. Mereka juga telah dihantui perasaan bersalah seperti yang aku rasakan. Aku merasa bersalah karena belum menutup aurat, hal yang haram untuk diperlihatkan. Namun sayang, diantara kami banyak yang memiliki kendala dalam mewujudkan impian kami, yaitu menutup aurat. Dan aku adalah salah seorang yang memiliki kendala tersebut. Wajah ku bulat, tubuhku buntal. Seakan-akan aku adalah karung beras berjalan. Aku takut bila memakai jilbab dan rok panjang akan membuat diriku bertambah jelek dan tidak menarik. Hari berikutnya aku belajar kelompok lagi di rumah Rida, teman yang memiliki majalah usang kemarin. Yang artikelnya membuat aku dihantui perasaan tidak enak selama berhari-hari. Kali ini ia juga memiliki majalah baru yang terdapat banyak kisah islami di dalamnya. Aku memang penggila kisah. Sehingga tanpa membuang-buang waktu aku mengambil majalah itu dari tangannya. Aku buka lembar demi lembar halamannya. Dan aku menemukan sebuah kisah dengan judul yang sangat menarik hati ku. Sebuah kisah yang mengisahkan tentang perjuangan seorang wanita non muslim untuk berpindah aqidah menjadi Islam. Ia bersungguh-sungguh untuk mempelajari dan melaksanakan ajaran Islam, termasuk kewajiban berjilbab. Ketika kembali dari rantauannya, ia mendapat tantangan keras dari lingkungannya yang mayoritasnya adalah non muslim. Ia dipaksa untuk kembali kepada agamanya dan menanggalkan jilbabnya. Namun, wanita tadi tetap bersikeras dengan keislamannya sehingga membuat orang-orang di lingkungannya kehilangan kesabaran. Mereka mengakhiri semuanya dengan meluncurkan sebuah peluru yang menembus kepalanya.
Jika Ditanya Pilih Mana?
Written by Administrator
Tuesday, 05 January 2010
Last Updated ( Tuesday, 05 January 2010 )
Views
338
Suatu pagi yang cerah saya dihubungi seorang sahabat yang katanya ingin datang berkunjung. Saya pun menerimanya dengan senang hati. Kami berbincang hal-hal ringan sampai akhirnya hal serius mengenai masalah pribadinya. Jauh-jauh hari, sebenarnya saya sudah mendengar kabar serius mengenai sahabat saya ini. Tidak dari dia, tetapi dari orang lain. Karena kabarnya tidak enak didengar, terlebih setiap kami bertemu dan bersama tidak sedikitpun dia menyinggung hal tersebut, maka saya tidak berani dan merasa sungkan untuk menanyakannya langsung. Ternyata hari itu dia siap untuk bercerita. Dan yang membuat saya bertambah lega, dia juga menyampaikan rasa penghargaannya karena selama ini saya tidak pernah menyinggung atau menanyakan langsung masalah pribadinya tersebut. Padahal sebagai seorang sahabat, dia tahu bahwa saya pasti mengetahui masalah yang sedang mendera hidupnya. Dan kini dia berpikir, jika saya mau menulis sepenggal kisah hidupnya itu, mungkin saja akan bisa mendatangkan hikmah atau pelajaran buat orang lain.
Cinta Berselimut Iman, Berhias Perjuangan Bag 2
Written by Administrator
Thursday, 03 December 2009
Views
390
Menjelang malam, musyawarah mulai menunjukkan titik terang. Seluruh keluarga memberikanku ijin untuk menikah. Mereka juga memberikan 4 syarat yang harus kupenuhi jika mau menikah. Syarat yang pertama adalah agar aku menyelesaikan kuliah terlebih dahulu. Kedua, aku harus membantu kehidupan ekonomi ibu dan menanggung biaya pendidikan adik hingga jenjang pendidikan perguruan tinggi. Selanjutnya, seluruh fasilitas yang aku peroleh seperti motor dan uang saku untuk kuliah semuanya harus dikembalikan. Dan terakhir, aku harus menanggung semua kebutuhan nikahku sendiri. Meskipun bahagia, aku tetap merasa gundah. Aku masih merasa sulit jika harus menanggung biaya pernikahan dan walimahan sendiri. Dibandingkan syarat yang lain, syarat ini adalah syarat yang paling sulit. Persoalannya adalah waktu yang mepet untuk mempersiapkan semua biaya. Ditambah lagi, keluargaku dan keluarga calon istri menginginkan pesta pernikahan yang tidak sederhana. Jika aku hanya mengandalkan hasil mengajar privat, rasanya tak cukup. Kalaupun ditambah dengan hasil berjualan roti juga pasti belum cukup. Tapi, aku tetap yakin akan ada jalan jika aku memang meluruskan niat pada kebaikan. Senjata terakhirku pun hanyalah berdoa kepada Allah yang Maha Pemberi Rizki.
Cinta Berselimut Iman, Berhias Perjuangan
Written by Administrator
Thursday, 15 October 2009
Views
632
Saat aku memutuskan untuk menikah, semua tampak begitu terkejut. Ibuku yang begitu lembut, mendadak kaget dan tidak bisa menerima keputusan itu. Beliau tetap bersikukuh agar aku menyelesaikan kuliah di tingkat sarjana dan melanjutkannya ke jenjang doktor sebelum menikah. Keinginan yang mungkin saja terwujud karena aku termasuk mahasiswa yang selalu mendapatkan bea siswa di bangku kuliah. Ditambah lagi, ada seorang dosen yang menawarkan bea siswa program doktor bagiku. Kondisi keluarga besar yang terdiri dari kakek, nenek, para paman, dan bibi tidak jauh berbeda dengan ibu. Selain kaget, mereka malah menginginkan agar aku bekerja terlebih dahulu sebelum menikah. Wajar saja mereka berpikir seperti itu karena aku adalah satu-satunya anak laki-laki yang diharapkan bisa menggantikan peran ayah di keluarga ibu. Peran yang tak pernah ada karena ayah telah lama pergi. Bukan karena meninggal, tetapi karena menikah dengan wanita lain tanpa mau memperdulikan kami. Hari demi hari terus berganti, keinginanku untuk menikah semakin kuat saja. Cibiran dari keluarga dan tetangga justru kujadikan sebagai cemeti untuk melecutkan semangat. Alhamdulillah, gadis yang kuajak untuk ta’aruf beberapa waktu lalu pun telah menyanggupi untuk segera menikah. Begitupula dengan keluarganya juga tampak begitu antusias menanti hari yang berbahagia itu. Tapi, semua masih menjadi rahasia Ilahi karena aku belum bisa memberikan kepastian tanggal pernikahan sebelum ibu dan keluargaku memberi restu. Ya, semua harus bersabar dan tak boleh gegabah agar hasilnya memuaskan. Meskipun demikian, ada saja yang menghembuskan aroma semangat tidak sedap. Aroma itu berupa anggapan yang tidak baik jika aku menikah dengan gadis yang usianya lebih tua dari diriku. Memang usiaku pada saat itu baru 21 tahun, sementara calon istriku sudah menginjak usia 24 tahun. Tapi hal itu tak kemudian membuatku jadi kendur. Bagiku, istri lebih tua tak jadi masalah asalkan baik agama dan akhlaknya. Apalah arti usia jika dibandingkan dengan kebaikan agama yang akan menghantarkan pada kebahagian. Toh, Khodijah yang usianya lebih tua bila dibandingkan Rasulullah n tetap bisa menjadi mutiara kebahagian di rumah Nabi n.
Cinta Seorang Aktivis
Written by Administrator
Thursday, 10 September 2009
Views
856
Asmara memang tak punya mata. Tak peduli siapapun dia, asmara bisa hadir kapan saja. Tak terkecuali para aktivis dakwah yang konon sangat menjaga nilai-nilai pergaulan Islami. Tak sedikit dari mereka yang ketika kasmaran jadi salah tingkah. Makan jadi nggak enak, tidur jadi tak nyenyak, dan jalan jadi salah tingkah. Argh…, hidup seolah penuh dengan kegelisahan. Berikut adalah salah satu wakil kisah yang menggambarkan kasmarannya seorang aktivis dakwah. Semoga kita semua bisa mengambil banyak manfaat darinya. Kisah ini bermula saat Dimas(sebut saja begitu) memutuskan untuk bergabung di salah satu Lembaga Dakwah Kampus (LDK) setahun setelah ia menyandang gelar sebagai mahasiswa. Tak ada yang mendorong dia melakukan hal itu. Tapi, kenangan indahnya pada organisasi dakwah SMA terus memintanya agar ia kembali berkiprah di dunia dakwah. Kerinduannya pada teman-teman yang selalu taat beribadah turut pula menyeretnya dengan kuat untuk kembali menyandang gelar sebagai aktivis dakwah. Semua tampak berjalan lancar. Dimas segera mendapatkan teman dan peran strategis di lembaga dakwah itu. Sayangnya, cara ia berkomunikasi dengan akhwat dianggap menimbulkan masalah. Dimas sangat jarang bercakap-cakap dengan akwat seperti yang dilakukan oleh beberapa temannya. Jangankan bercakap-cakap, bertemu dengan akhwat pun Dimas menghindar. Tidak hanya itu, sikap kritis Dimas terhadap cara berfikir dan bersikap kader lain membuat suasana organisasi menjadi panas. Pasalnya, Dimas seringkali mengkritik kajian yang kurang memperhatikan hijab, acara nasyid-an, dan rapat yang betele-tele. Nilai negatif Dimas yang lain di mata para kader adalah celananya ngatung dan jenggotan. Tak mengherankan jika Dimas terkenal sebagai trouble maker aneh.