admin : Wa'alaikumsalam, ayo siapa yang mau bantu? mungkin bisa beri informasi letak kajiannya...
yusuf99 : saya pengen ngaji salaf nih. tapi gak tau apa di daerah saya ada guru salaf apa enggak. ada yang bisa bantu carikan guru salaf gak? domisili saya di Malang selatan. jazakumullah...
yusuf99 : assalamu'alaikum..
vikiangga : Jazaakallah khoir,, atas ijinnya,,,
abu nafisah : assalamu'alaikum.LOWONGAN KERJA BUAT ANTUM YANG ADA DI JABODETABEK. LIHAT: «link»
admin : vikiangga,silahkan kalo mau copas tapi cantumkan sumbernya ya...
admin : Iya,semoga Fata bisa selalu eksis dan menjadi salah satu media dakwah dinegeri ini ya aldoe.sadan
admin : Semoga Ramadhan ini menjadi titik balik dari kita untuk menjadi lebih baik ya rudyekopras
Saat berbicara tentang masalah dakwah, sebagian di antara kita berpikir bahwa masalah yang dibicarakan terletak begitu jauh, seperti dakwah di Cina, India, atau Papua. Bahkan tak terpikir bahwa masalahnya ada begitu dekat bahkan berada di bawah telapak kaki kita sendiri. Problematika dakwah pertama yang perlu diselesaikan adalah bagaimana membawa diri dan jiwa kita kepada kebenaran itu sendiri. Inilah dakwah yang terbesar. Begitu pula bertobat dari dosa dan maksiat, menambah amalan shalih, serta menjaga amalan-amalan sunnah. Munculkan pada jiwa untuk bertobat dari terus menerus meninggalkan amalan nafilah dan amalan yang bernilai sunnah. Bertobat dari malas-malasan mengerjakan sunnah rawatib. Bertobat dari lemah dalam mendapatkan shaf pertama, bertobat dari meninggalkan Al Quran. Bertobat dari sedikitnya berdzikir pada Allah. Bertobat pada Allah dari membuang waktu pada hal yang tak berguna. Ya, ajaklah jiwa untuk hal tersebut terlebih dahulu. Selanjutnya, disamping memperbaiki diri, kita memulai untuk memperbaiki keluarga. Baik itu orang tua, istri-suami, anak-anak, dan kerabat kita . Seperti firman Allah, “ Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,..” (Asy Syu’ara: 214)
D'Taz : Tas Eksklusif Bikinan Muslimah Kreatif II
Written by Administrator
Tuesday, 05 January 2010
Last Updated ( Tuesday, 05 January 2010 )
Views
528
Masih inget Muda Mandiri edisi yang lalu? Yup, rubrik Muda Mandiri edisi lalu berkisah tentang perjuangan para muslimah kreatif yang ingin mandiri. Mereka memberanikan diri untuk membuka usaha berjualan tas dengan modal pinjaman. Mau tahu kisah seru selanjutnya? Baiklah, kita nikmati sajian dari pelaku usahanya langsung.
Asa Sebuah Perjuangan Kami (Hasna dan Septi) kemudian mengajak dua orang teman lagi dalam bisnis ini, yaitu Dhea Fitria (mahasiswi fak Pertanian UGM jurusan Sosial Ekonomi 2007, dan Anisa Budi S. dari fak. Farmasi 2007). Kami segera mengajukan proposal bisnis pada program tersebut. Setelah melewati proses seleksi yang meliputi seleksi administrasi dan presentasi, Alhamdulillah kami termasuk kelompok yang usahanya didanai. Modal yang disetujui oleh Dikti adalah sebesar 15 juta dan harus dikembalikan dalam waktu 1,5 tahun tanpa bunga. Program ini sangat memudahkan mahasiswa yang ingin berwirausaha namun terhambat masalah modal. Dana dari Dikti cair pada awal Juni. Pada bulan Juni, kami melakukan produksi softcase batik. Pada produksi selanjutnya, kami mencoba untuk membuat softcase berbahan vinil dengan pilihan warna yang beragam. Harga yang kami tawarkan berkisar 50-70 ribu tergantung desainnya. Ternyata produk ini cukup disukai kalangan mahasiswa dan pelajar SMA.
D'Taz : Tas Eksklusif Bikinan Muslimah Kreatif
Written by Administrator
Thursday, 03 December 2009
Last Updated ( Thursday, 03 December 2009 )
Views
581
Ada sebagian orang yang menganggap kalo wanita itu tugasnya hanya urusan rumah tangga saja. Kegiatannya nggak lebih dari urusan sumur, pupur, dan kasur saja. Bahkan, ada suami yang menentang habis istrinya cuma gara-gara sang istri mau berkarya. Kalo sang istri berkarya dengan meninggalkan aspek-aspek syariat sih pantas kalo ditentang, tapi kalo selama masih menjaga nilai-nilai syariat? Tentu saja boleh. Di sisi yang lain, ada sebagian wanita yang justru kebabalasan dalam berkarya. Dengan beraninya mereka menanggalkan jilbab dan bergaul dengan lawan jenis tanpa aturan yang jelas. Nah, kalo begini bukan lagi anugerah tapi justru musibah.
Dibalik Kesulitan Ada Kemudahan Part 2
Written by Administrator
Thursday, 15 October 2009
Last Updated ( Thursday, 15 October 2009 )
Views
710
Di edisi yang lalu, telah dikisahkan kalo akhirnya pemuda rantauan dari Madiun memilih membuka usaha disamping bekerja sebagai tenaga honorer. Nah, sekarang dia akan berkisah lagi tentang kehidupannya sebagai pengusaha murni. Pengin tahu kelanjutannya? Biar dia berkisah sendiri lagi ya…
Cinta Pada Kelontong dan Pecel Madiun Kecintaanku pada dunia usaha, akhirnya tak tertahankan lagi. Dengan mantap, aku putuskan untuk fokus menggeluti usaha dan meninggalkan pekerjaan sebagai tenaga honorer. Awalnya memang ada rasa gamang, apalagi ada seorang dosen yang berusaha memintaku kembali bekerja. Tapi, tekadku sudah bulat untuk menapaki jalan bisnis. Impian jadi PNS telah aku kubur dalam-dalam seiring dengan langkahku menapaki dunia usaha. Biarlah orang lain rela menunggu lama sebagai tenaga honorer dengan harapan akan menjadi PNS sementara aku bekerja sebagai pengusaha. Dan aku tak pernah menyesal dengan keputusan menjadi pengusaha walau banyak rasa pahit yang menemani jalan bisnis ini. Seiring berjalannya waktu, Allah a memanjakan aku dengan berbagai nikmatnya. Setelah lumayan sukses dengan usaha kelontong, akhirnya usahaku merambah pada bidang kuliner. Disamping warung kelontong, aku buka makanan khas Madiun. Mau tahu apa itu? Ya betul, nasi pecel. Nasi pecel khas madiun aku padukan dengan “tempong” yang rasanya pasti nikmat. Tak lupa, aku juga menyajikan lele sebagai lauk alternatif. Tanpa kuduga, usaha kuliner yang kujalankan juga mendapat sambutan hangat dari pelanggan. Otomatis, keuntungan yang aku peroleh pun mulai meningkat hingga berlipat-lipat dari keuntungan saat awal mulai berbisnis. Dan sebagai wujud syukurnya, kusempurnakan separuh agama dengan mempersunting seorang wanita sebagai pendamping hidup. Melaluinya, aku memperoleh putra/putri yang akan meneruskan kehidupan ini. Disamping itu, aku juga membeli tanah plus rumah sebagai wujud tanggung jawab kepada keluarga. Sungguh, aku sangat bersyukur atas itu semua.
Di Balik Kesulitan Ada Kemudahan Part I
Written by Administrator
Tuesday, 29 September 2009
Last Updated ( Tuesday, 29 September 2009 )
Views
670
Aku terlahir bukan dari keluarga yang mapan secara ekonomi. Pendidikan formal tertinggi yang bisa kuraih hanyalah Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota Madiun. Keluarga tak mampu memberi biaya untuk kelanjutan studiku sehingga usia bergelut dengan bangku pendidikan aku harus berselancar di dunia kerja. Dan dunia kerja yang kupilih pada waktu itu adalah dunia perbankan. Di dunia itu, aku bekerja sebagai penagih utang atau deep collector. Harus ku akui, sebenarnya aku sangat membenci pekerjaan itu. Ini karena hampir setiap hari aku harus adu mulut dengan nasabah agar mereka mau mencicil hutang pada bank. Sungguh pekerjaan yang berat dan melelahkan. Perjuanganku di dunia perbankkan akhirnya kuhentikan Aku lebih memilih untuk bekerja seadanya di rumah tanpa rasa beban di hati. Lama aku menunggu, akhirnya pertolongan Allah datang. Aku ditawari bekerja sebagai pembantu di rumah seorang dosen UGM di kota Jogja. Awalnya memang berat, tapi tak ada pilihan yang lebih baik bagiku saat itu. Tak mungkin aku terus menganggur di rumah sementara umurku terus bertambah. Dan akhirnya, kuterima tawaran kerja itu dengan penuh kerelaan.
Dari Karyawan Jadi Juragan
Written by Administrator
Monday, 24 August 2009
Last Updated ( Wednesday, 26 August 2009 )
Views
845
Saat usia menginjak dewasa, ada kewajiban yang bertambah. Kewajiban apa itu? Yups, kewajiban mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan hidup tentunya. Jangan dikira mencukupi kebutuhan hidup hanya tugas orang yang sudah berkeluarga lho. Kamu yang sudah mulai beranjak gede (ABG maksudnya) juga harus belajar mencari nafkah. Lebih-lebih kalo kamu seorang laki-laki yang tentunya akan menjadi kepala keluarga kelak. Jangan malu untuk belajar dan bekerja, Sobat. Nggak masalah jika saat ini kamu masih bekerja pada orang lain dengan hasil yang kecil. Jadikan itu semua sebagai media pembelajaran untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman. Dan bagi yang belum mencoba mencari rizki, coba dech belajar untuk melakukan hal itu. Di jamin dech, pasti banyak tantangan serunya. Terus, kalo keinginan kamu belum tergerak or kamu masih canggung untuk terjun dalam dunia usaha, ada baiknya kamu tahu profil pengusaha di rubrik Muda Mandiri kali ini. Sebenarnya, ia adalah pengusaha muda yang sukses untuk ukuran orang seusianya. Sayang, saat Fata menemuinya, ia tak bersedia jika namanya terpampang di majalah kesayangan kamu ini. Tapi itu bukan masalah tentunya. Toh kamu masih bisa mengambil manfaat dari pengusaha muda kali ini meskipun dengan nama samaran. Udah nggak sabar? Ayo, kita kupas profil pengusaha muda kali ini.
Saat Muslimah Berkarya
Written by Administrator
Thursday, 06 August 2009
Last Updated ( Wednesday, 12 August 2009 )
Views
782
Saat Muslimah Harus Berkarya
Bekerja mencari nafkah memang bukanlah tugas utama seorang wanita. Ia adalah kewajiban utama yang harus diemban oleh para kaum Adam sebagai konsekuensi atas kelebihan yang Allah berikan kepada mereka dibandingkan kaum Hawa. Tapi, apakah kaum Hawa tidak boleh berkarya dan bekerja? Tentu tidak demikian adanya. Islam masih mengijinkan para wanita untuk berkarya selama mereka masih mau menjaga hijab dan tidak melanggar batas-batas syariat. Nggak percaya? Coba dech baca kisah Asma’, putri Abu Bakr, yang harus bekerja di kebun suaminya untuk menambah pendapatan keluarga. Atau, kamu bisa baca kisah istri nabi yang pertama, Khadijah. Kalo kurang, kamu bisa baca kisah putri Nabi Ya’qub yang menggembala kambing sebelum menjadi istri Nabi Musa. Nah, tentu alasan seorang muslimah untuk berkarya itu macam-macam. Ada yang berkarya untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Ada pula yang berkarya agar bisa berderma kepada orang lain. Tak jarang, seorang muslimah mau berkarya karena konndisi sosial ekonomi keluarganya lemah sementara kebutuhan hidup semakin meningkat. Tapi, banyak pula muslimah kaya yang masih tetap berkarya. Tentu mereka nggak hanya materi semata.
Menjadikan Usaha Bernilai Ibadah
Written by Administrator
Tuesday, 31 March 2009
Views
1331
Adakah di antara kamu yang pengin jadi pengusaha? Tentu ada dong! Di tengah kompetisi persaingan kerja yang semakin ketat, membuka usaha menjadi alternatif paling ampuh untuk tetap bisa bertahan. Alasan lainnya lagi, kamu bisa menolong orang lain dengan memberikan pekerjaan dan upah. Untung kan? Tapi, kamu kudu ingat kalo usaha yang kamu lakukan itu harus bernilai ibadah alias dibingkai dalam ridha mencari kerelaan Allah. Maksudnya, jangan sampai kamu cuma mengejar keuntungan materi belaka dan mengesampingkan tujuan utama usaha, yaitu ibadah. Ini perlu benar-benar ditanam dalam hati dan pikiran lho. Agar nggak asal bilang kalo usahanya bernilai ibadah tapi praktiknya lebih kejam dari kapitalis. Nah, ngomong-ngomong soal usaha yang bernilai ibadah tampaknya kita perlu meneladani pengusaha kelahiran Jakarta 25 tahun silam kali ini dech. Namanya Mas Ubaidillah atau akrab disapa dengan panggilan Akh Ubay. Apa sih yang menarik dari usaha yang dijalankan Akh Ubay? Yuk, kita simak bahasan Muda Mandiri kali ini.