admin : Wa'alaikumsalam, ayo siapa yang mau bantu? mungkin bisa beri informasi letak kajiannya...
yusuf99 : saya pengen ngaji salaf nih. tapi gak tau apa di daerah saya ada guru salaf apa enggak. ada yang bisa bantu carikan guru salaf gak? domisili saya di Malang selatan. jazakumullah...
yusuf99 : assalamu'alaikum..
vikiangga : Jazaakallah khoir,, atas ijinnya,,,
abu nafisah : assalamu'alaikum.LOWONGAN KERJA BUAT ANTUM YANG ADA DI JABODETABEK. LIHAT: «link»
admin : vikiangga,silahkan kalo mau copas tapi cantumkan sumbernya ya...
admin : Iya,semoga Fata bisa selalu eksis dan menjadi salah satu media dakwah dinegeri ini ya aldoe.sadan
admin : Semoga Ramadhan ini menjadi titik balik dari kita untuk menjadi lebih baik ya rudyekopras
Suatu ketika pernah terjadi dialog tentang cinta antara Rasulullah dan Umar bin Khathab. 'Umar berkata, "Wahai Rasulullah, engkau benar-benar orang yang paling aku cintai melebihi segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri".
(Mendengar itu) beliau menjawab, "Tidak. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya". (Harus sampai aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri). Lantas 'Umar menimpali, "Sesungguhnya sekarang sudah. Demi Allah! Engkau benar-benar lebih aku cintai daripada diriku. Maka Rasulullah n berkata, "Nah sekarang (imanmu sempurna) Wahai Umar." (Riwayat Al- Bukhari 6632)
Bisa Apa dengan Tauhid Uluuhiyyah?
Written by Administrator
Tuesday, 05 January 2010
Views
327
Kita semua tahu dan mengerti, bahwa Tauhid Uluuhiyyah adalah dasar utama dakwah para nabi dan rasul. Bahkan intisari dari Islam adalah Tauhid Uluuhiyyah, seperti yang terungkap dari ajakan setiap para rasul, “Beribadahlah kepada Allah, dan kalian tidak memiliki sesembahan, melainkan Dia..” (Al-A'raf: 59, 65, 73, 85) Maka, sudah tentu banyak hal-hal menarik seputar Tauhid Uluuhiyyah, sehingga ia disebut sebagai asal mula tauhid, atau dasar dari semua jenis tauhid yang tiga: Uluhiyyah, Rububiyyah dan Al-Asmaa wash Shifaat. Sekarang, mari kita amati beberapa hal menarik tersebut, agar kita semakin memahami makna, pengertian dan tujuan dari Tauhid Uluuhiyyah
Dasar-dasar Tauhid Asma’ Wa Sifat
Written by Administrator
Wednesday, 25 November 2009
Views
591
Seperti halnya kedua jenis tauhid terdahulu, yaitu Tauhid Ar-Rubuubiyyah dan Tauhid Al-Uluuhiyyah, maka Tauhid Al-Asmaa wash Shifaat ini juga berpangkal dari mentauhidkan Allah, mengesakan atau menunggalkan Allah. Bedanya, tauhid Al-Asmaa dan Ash-Shifaat ini adalah menunggalkan atau mengesakan Allah dengan Asma dan Shifatnya. Intinya yaitu: mengimani dan meyakini nama-nama Allah dan sifat-sifatNya, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya n sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah Subhannahu wa Ta’ala, Apa yang dimaksud dengan 'sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah?' Para ulama tauhid Ahlussunnah menjelaskan, bahwa keimanan terhadap asma dan sifat Allah menjadi sesuai dengan kemuliaan-Nya Subhaanahu wa Ta'aala, bila memenuhi beberapa kriteria: Pertama, mengimani asma dan sifat Allah tanpa ta’wil dan ta’thil. Tanpa takwil, yakni tanpa menakwilkan asma dan sifat Allah, di luar pengertiannya yang jelas secara lahiriah yang dimengerti secara bahasa. Seperti Allah itu Maha Mendengar. Kata mendengar secara lahiriah jelas makna dan pengertiannya. Maka demikianlah dipahami, bahwa Allah itu Maha Mendengar. Yang kita tidak tahu, dan tidak boleh mengungkit-ungkit adalah bagaimana Allah Mendegar. Karena itu adalah hal yang hanya diketahui oleh Allah semata. Tanpa ta'thiel, artinya dengan tidak mengabaikan makna dan hakikat asma dan sifat Allah. Kita tidak boleh mengatakan, “Allah Itu Maha Mendengar,' tapi mendengar ini tidak ada maknanya sama sekali, sekadar nama saja. Ta'thiel sendiri ada dua jenis. Ada sebentuk penolakan terhadap makna dan hakikat nama dan sifat Allah, bahkan itu sekadar nama. Dan ada juga bentuk penolakan sebagai nama dan sifat Allah, bahwa itu hanya sebutan tanpa makna sama sekali. Bukan sifat, juga bukan nama. Keduanya adalah pemikiran dan keyakinan yang sesat.
Harga = Jiwa Surga
Written by Administrator
Tuesday, 27 October 2009
Last Updated ( Tuesday, 27 October 2009 )
Views
490
Tanpa disadari, kehidupan berlangsung dari detik ke detik. Kematian begitu mudah terjadi, nggak pandang bulu pada siapa dia mampir. Perseorangan ataupun kolosal, pasti mungkin bagi Allah.
Masih ingat dengan berbagai musibah beruntun di tanah air? Dari Tsunami, gunung meletus, dan yang terhangat adalah gempa bumi? Itu menjadi bukti nyata bahwa sekiranya Allah sudah berkehendak untuk mencabut nyawa seseorang/kaum pada hari yang ditentukan, nggak ada yang bisa memajukan dan mengundurnya, “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka nggak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan nggak dapat (pula) memajukannya.” (Al A’raf: 34)
Apakah kita masih terlena dan nggak menyadari bahwa hari-hari yang kita lewati justru semakin mendekat kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain.
Tauhid Uluhiyah, Makna dan Pengertiannya
Written by Administrator
Tuesday, 29 September 2009
Last Updated ( Tuesday, 29 September 2009 )
Views
1126
Tauhid, seperti yang sudah kita pelajari bersama artinya adalah mengesakan atau menunggalkan. Dalam arti kita meyakini bahwa Allah itu MahaEsa atau MahaTunggal.
Uluhiyyah sendiri diambil dari akar kata aliha-ya lahu, ilaahan atau uluuhan. Secara bahasa, arti kata aliha yaitu bertujuan, mendedikasikan diri kepada, mencintai sesuatu sepenuh hati, menghambakan diri kepadanya, bermonoloyalitas kepada..... Jadi, kita adalah aalih, atau orang yang melakukan uluuh. Berarti kita harus mencinta, menghambakan diri kepada, bermonoloyalitas kepada Dzat yang kepada-Nya kita beruluuh. Allah adalah ma-luuuh. Dalam arti yang dicintai sepenuh hati, yang kepada-Nya kita bermonoloyalitas, yang terhadap-Nya kita menghambakan diri, dan seterusnya. Sebanyak dan seragam makna uluuh itu sendiri. Kata uluuhiyyah adalah kata uluuh yang diberi imbuhan yaa An-Nisbah. Artinya, Tauhid Uluhiyyah adalah penunggalan dan pengesaan Allah dalam hal uluhiyyah. Artinya, kita harus meyakini bahwa adalah satu-satunya yang kita cintai sepenuh hati, yang kita tunggalkan ketaatan secara mutlak kepada-Nya, yang kita menghambakan diri dan mengabdi kepadanya. Dan itulah makna sejati dari Laa Ilaaha Illalah. Laa ilaaha illallah bukan sekadar berarti TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH. Tapi artinya, Tidak ada yang berhak diibadahi, tidak ada yang berhak kita cintai sepenuh hati, yang kita taat kepada-Nya secara mutlak, yang kita mengabdikan diri dan menghambakan diri kepada-Nya, kecuali Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Artinya, kalau sekadar mengakui bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah, seseorang belum dikatakan telah bersyahadat secara sempurna dalam keyakinannya. Karena orang-orang musyrik juga mengakui syahadat yang hanya sebatas itu, yakni bawa tidak ada Tuhan kecuali Allah semata.
Esensi At Tauhid Ar Rububiyah
Written by Administrator
Tuesday, 25 August 2009
Last Updated ( Wednesday, 26 August 2009 )
Views
778
Etimologi Tauhid Ar-Rububiyyah
Tauhid berarti mengesakan atau menunggalkan. Yakni memercayai dan meyakini keesaan Allah, bahwa Allah itu MahaEsa. Tauhid Ar-Rubuubiyyah, berarti meyakini bahwa Allah MahaEsa dalam Rububiyyahnya.
Kata Rubuubiyyah secara bahasa diambil dari akar kata rabb, yang artinya Tuhan, atau pemilik sesuatu. Contohnya, - Rabbud daar (رَبُّ الدَّارِ), artinya: pemilik rumah. - Rabbul 'Aalamin. Artinya, Rabb atau Tuhan dari seluruh 'alam. Dalam bahasa Arab, 'alam artinya ciptaan Allah. Segalanya, kecuali Allah, disebut 'alam. Nah, kata rabb itu sendiri diambil dari kata rabbaa yang merupakan bentuk abstrack noun atau kata bendanya tarbiyah.
Arti rabbaa (رَبىَّ) atau tarbiyah yang secara bahasa yaitu: Memelihara sesuatu hingga tumbuh sempurna. Maka, kata tarbiyah bisa berarti pendidikan, pembinaan, bahkan juga bisa berarti peternakan. Karena semuanya bermakna memelihara hingga tumbuh sempurna. Oleh sebab itu, kata majikan, tuan, raja, juga bisa disebut rabb. Contohnya, dalam Al-Quran, "...terangkan keadaanku ini kepada rabb (tuan) mu. Maka setan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya." (Yusuf : 42)
Namun kata Rabb lebih banyak digunakan dalam istilah syariat dalam makna yang mirip dengan kata Tuhan dalam bahasa kita. Contohnya, seperti disebutkan dalam Al-Quran, " Musa berkata (pula): "Rabb (Tuhan) kamu dan Rabb (Tuhan) nenek-nenek moyang kamu yang dahulu…" (Asy-Syu'araa : 26)
Nah, dari situlah dapat dimaknai Tauhid Ar-Rubuubiyyah. Kata Rububiyyah adalah sejenis abstract noun, atau kata kerja yang dibendakan, yang dibagian akhirnya diberi tambahan yaa-un nisbah, yaitu iyah. Asalnya adalah rubuub saja. Nah, yaa-un nisbah ini mengandung makna bahwa kata itu adalah karakter. Seperti bila kita menyebut bahwa sekolah ini adalah sekolah islamiyyah, berarti memiliki karakter dasar yang islami. Berdasar pada nilai-nilai Islam. Jadi, Tauhid Ar-Rubuubiyyah adalah mengesakan Allah, dalam hal-hal yang menjadi karakter keTuhan-an yang hanya dimiliki oleh Allah semata. Contohnya, menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada, memberikan dan menetapkan rezki, menghidupkan dan mematikan, memberi kemuliaan dan kehinaan. Semua itu adalah karakter-karakter keTuhan-an yang hanya dipunyai oleh Allah saja.
Mengenal Ilmu Tauhid
Written by Administrator
Wednesday, 05 August 2009
Last Updated ( Wednesday, 12 August 2009 )
Views
1505
Pembaca yang semoga dirahmati Allah. Mulai edisi ini dan seterusnya insyaAllah, rubrik jalanku akan menyajikan bahasan yang mengulas tauhid dan hal-hal yang terkait dengannya. Sumber rujukan bahasan ini kami ambil dari sebuah kitab Mulakhas Fiqhi buah karya dari syaikh Shaleh Fauzan Al Fauzan. Semoga bermanfaat!
Mengenal Ilmu Tauhid
Sebagai muslim, kita wajib mengenal ilmu-ilmu keislaman. Nah, di antara berbagai ilmu keislaman, yang terpenting adalah ilmu tauhid. Karena tanpa mengenal ilmu tauhid, kita akan mudah terjebak pada kemusyrikan. Ilmu tauhid sendiri adalah ilmu yang mengajarkan kita bertauhid kepada Allah. Lalu, apa arti tauhid? Secara bahasa, tauhid diambil dari akar kata wahhada-yuwahhidu (وحد - يوحد) yang artinya: menunggalkan, atau mempersatukan. Tapi secara istilah, tauhid artinya menunggalkan atau mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya, dalam mengakui hak-hak ketuhanan-Nya, dan dalam memahami dan meyakini Asma (nama-nama) dan Shifat (sifat-sifat)-Nya. Artinya, dalam beribadah kepada Allah, kita hanya mengalamatkan ibadah itu kepada-Nya saja. Kita tidak boleh beribadah kepada selain-Nya. Tujuan ibadah kita juga hanya mencari keridhaan-Nya. Inilah yang lazim disebut: Tauhid Uluuhiyyah.