admin : Wa'alaikumsalam, ayo siapa yang mau bantu? mungkin bisa beri informasi letak kajiannya...
yusuf99 : saya pengen ngaji salaf nih. tapi gak tau apa di daerah saya ada guru salaf apa enggak. ada yang bisa bantu carikan guru salaf gak? domisili saya di Malang selatan. jazakumullah...
yusuf99 : assalamu'alaikum..
vikiangga : Jazaakallah khoir,, atas ijinnya,,,
abu nafisah : assalamu'alaikum.LOWONGAN KERJA BUAT ANTUM YANG ADA DI JABODETABEK. LIHAT: «link»
admin : vikiangga,silahkan kalo mau copas tapi cantumkan sumbernya ya...
admin : Iya,semoga Fata bisa selalu eksis dan menjadi salah satu media dakwah dinegeri ini ya aldoe.sadan
admin : Semoga Ramadhan ini menjadi titik balik dari kita untuk menjadi lebih baik ya rudyekopras
Hari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.
Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya. “Suamiku tersayang,” Nasibah berkata, “aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang.”
Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nasibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.
“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”
Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.
Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.
Al-Qasim, Imam Kota Nabi
Written by Administrator
Monday, 01 February 2010
Last Updated ( Friday, 09 July 2010 )
Views
314
“Sekiranya ada bagiku kekuasaan dalam urusan ini, sungguh aku akan mengangkat al-Qasim ibn Muhammad menjadi khalifah” (Umar ibn Abdul Aziz) Tibalah kita di akhir masa kekhalifahan Utsman bin Affan z, saat seorang bayi cucu dari Shahabat Abu Bakar As-Shidiq z lahir ke dunia. Dialah Al-Qasim Ibn Muhammad Ibn Abu Bakar. Beberapa waktu setelah kelahirannya, berhembuslah angin fitnah yang menimpa kaum muslimin saat itu. Ditandai dengan terbunuhnya khalifah Dzunnurrain Utsman ibn Affan serta munculnya perselisihan antara Ali ibn Abi Thalib dan Muawiyah ibn Abi Sufyan v. Saat ayah beliau ditunjuk oleh Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib untuk menjadi gubernur di Mesir sehingga Al-Qasim pun pindah ke Mesir mengikuti ayahnya. Ketika di Mesir ternyata fitnah menimpa keluarganya dan menjadikan ayahnya terbunuh pula. Setelah kematian ayahnya, Al-Qasim dipindahkan ke Madinah oleh paman beliau Abdurrahman ibn Abi Bakar. Ketika sampai di Madinah, bibi beliau ummahatul mukminin Aisyah x mengambil dan membawanya untuk di didik di bawah asuhannya. Al-Qasim pun hidup dalam asuhan Aisyah x. Al-Qasim mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang ibu dan seorang ayah sekalipun yang lebih banyak berbuat kebajikan dan tidak pula lebih banyak kasih sayangnya dari pada dia(Aisyah x). Ia menyuapi kami dengan tangannya dan ia tidak ikut makan bersama kami. Apabila ada sedikit makanan kami yang tersisa ia pun memakannya. Ia mandekap (mengasihi) kami sebagaimana seorang ibu menyusui mengasihi bayi yang disapihnya. Ia mamandikan kami dan menyisir rambut kami. Ia juga memakaikan baju putih bersih kepada kami.” Demikianlah, Al-Qasim hidup dalam rumah yang penuh dengan kasih sayang dan ilmu.
Seberani Shilah Dalam Juhad
Written by Administrator
Tuesday, 05 January 2010
Views
338
Kisah ibadah dan penghambaan diri shilah telah kita paparkan pada edisi lalu. Tibalah saatnya mengetahui keberanian shilah dalam medan jihad. Namun, sebelumnya Shilah ibn Asyam walaupun begitu kuat dalam beribadah dan begitu tinggi zuhudnya tidaklah ia membenci sunnah Nabinya n untuk menikah. Shilah memiliki seorang misan perempuan bernama Mu’adzah Al-‘Adawiyah. Dia adalah seorang tabi’in sepertinya, di mana ia pernah bertemu dengan ummul mukminin ‘Aisyah x dan mengambil ilmu darinya. Ia seorang wanita yang bertakwa dan suci, taat ibadah dan zuhud. Di antara kebiasaannya adalah apabila malam tiba, ia berkata, “Bisa jadi ini adalah malam terakhir bagiku, maka janganlah kamu tidur hingga pagi.” Dan apabila siang tiba, ia berkata, “Mungkin ini adalah hari terakhir bagiku, maka janganlah pinggang ini merasa tenang hingga sore.” Di musim dingin, ia mengenakan pakaian yang tipis sehingga rasa dingin menghalanginya untuk condong kepada tidur dan berhenti dari ibadah. Ia menghidupkan malamnya dengan shalat dan banyak beribadah. Apabila rasa kantuk mengalahkannya ia berjalan berputar-putar di rumahnya dan berkata, “Wahai jiwa, di depanmu ada tidur panjang, besok kamu akan tidur panjang di kuburan. Entah di atas penyesalan atau di atas kesenangan. Maka pilihlah untuk dirimu wahai Mu’adzah pada hari ini apa yang kamu sukai agar kamu besok menjadi apa.”
DAKWAH SHILAH BIN ASYAM
Written by Administrator
Thursday, 03 December 2009
Last Updated ( Friday, 09 July 2010 )
Views
376
Kini kita berada di tengah seorang tabiin yang mulia, Shilah bin Asyam al-‘Adawi. Seorang ahli ibadah yang tak mengenal lelah, seorang pejuang yang tak ada sedikitpun rasa takut bersarang.
Dalam hari-hari yang dilaluinya selalu penuh dengan ibadah kepada-Nya. Apabila kegelapan telah menghampirinya dan saat manusia terlelap, ia bangkit dan menyempurnakan wudhu, kemudian ia berdiri di mihrabnya lalu shalat menghadap Rabbnya dengan penuh kekhusyuan. Saat fajar menyingsing, ia tekuni hobbynya membaca al-Qur’an di waktu fajar. Demikianlah keadaan Shilah ibn Asyam yang tidak pernah bosan dari ibadahnya ini sekalipun. Tidak ada bedanya saat di rumahnya, dalam perjalanan, di saat sibuk atau di saat waktu luangnya.
Ja’far ibn Zaid pernah bercerita, “Kami keluar bersama salah satu dari pasukan muslimin dalam sebuah perang ke kota “Kabul“ (ibukota Afghanistan) dengan harapan Allah akan memberikan kemenangan kepada kami. Dan adalah Shilah ibn Asyam berada di tengah pasukan.
Saat kami dalam perjalanan tanpa terasa malam menghampiri kami, para pasukan pun menurunkan bekalnya dan menyantapnya untuk kemudian menunaikan shalat ‘Isya. Lalu mereka pun beristirahat dengan tidur di sisi kendaraan mereka. Hal ini pula yang dilakukan oleh Shilah ibn Asyam.
Ja’far pun berkata dalam hati, “Dimanakah yang orang-orang riwayatkan tentang shalatnya orang ini dan ibadahnya serta apa yang mereka sebarkan tentang shalat malamnya hingga kakinya bengkak?! Demi Allah, aku akan menunggunya malam ini hingga aku melihat apa yang dikerjakannya.”
Tidak lama berselang, para prajurit pun terlelap dalam tidurnya. Hingga aku melihatnya bangun dari tidurnya dan berjalan menjauh dari perkemahan, bersembunyi dengan gelapnya malam dan masuk ke dalam hutan yang lebat dengan pepohonannya yang tinggi dan rumput liar. Seakan-akan belum pernah dijamah sejak waktu yang lama. Aku pun berjalan mengikutinya...
Ujian Kesabaran Ibnu Sirin
Written by Administrator
Tuesday, 27 October 2009
Last Updated ( Wednesday, 28 October 2009 )
Views
558
Alkisah, dua tahun menjelang berakhirnya kekhilafahan, Amirul Mukminin, ‘Utsman bin ‘Affan z. Lahir seorang anak laki-laki yang kelak menjadi Tabi’in yang agung bernama Muhammad bin Sirin. Dia tumbuh dalam sebuah rumah yang dipenuhi oleh sifat wara’ dan takwa dari segala sudutnya milik Sirin bekas budak Anas bin Malik z yang menikah dengan seorang budak wanita Amirul Mukminin, Abu Bakar as-Shiddiq z bernama Shofiyyah.
Saat menginjak usia baligh, Muhammad Bin Sirin mendapatkan masjid Rasulullah n dipenuhi oleh sisa-sisa para shahabat yang mulia dan para senior kalangan Tabi’in seperti Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik, ‘Imran al-Hushain, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin az-Zubair dan Abu Hurairah.
Maka dia pun menimba dari mereka ilmu Kitabullah, Fiqhuddin (memahami agama) dan periwayatan hadits dari mereka, sehingga hal itu dapat mengisi akalnya dengan hikmah dan ilmu serta memerisai dirinya dengan keshalihan dan kelurusan.
Kemudian keluarganya membawa pemuda ini pindah ke Bashrah, sebuah kota yang mewakili karakteristik umat Islam. Dan kemudian menetap di sana.